7 Cara Agar Kamu Bisa Tetap Baik Hati, Tanpa Terkesan Lemah dan Mudah Dimanfaatkan!

TOLONGSHARE.COM – Apa definisi baik?

Apakah menjadi orang baik artinya kamu harus siap diandalkan oleh siapapun, tegar mengesampingkan kepentingan diri demi kebahagiaan orang lain, dan membuat orang lain tersenyum bahagia meskipun dirimu sendiri berdarah-darah karenanya? Ataukah menjadi orang baik artinya bisa menempatkan segala sesuatu sesuai porsi, sehingga kamu hanya melakukan sesuatu yang semestinya kamu lakukan?

Terlalu baik biasanya lekat dengan sifat tidak enakan. Kamu yang terlalu baik ini mengalami tingkat kesulitan untuk menolak sebuah permintaan melebihi soal fisika tentang parabola. Kamu merasa bertanggung jawab untuk membahagiakan semua orang dan sah-sah saja bila kamu sendiri tak bahagia. Bila diteruskan lama-lama, bukan hanya kamu sendiri yang tersiksa, namun kamu juga membuka peluang orang untuk memanfaatkan.

Lantas bagaimana? Masa iya kita harus jadi orang jahat supaya nggak dimanfaatkan?

Tentu tidak. Tapi semuanya harus dilakukan sesuai porsi. Kamu harus mengatur batasanmu sendiri. Ada hal-hal yang harus kamu iyakan dan apa yang kamu enggak-an. Tapi Hipwee akan bantu kamu dengan beberapa cara ini, yang bisa kamu lakukan untuk tetap bersikap baik, tapi tetap mencintai diri sendiri.

1. Jangan selalu available. Sekali waktu, tentukan kapan kamu harus unavailable , agar orang tak selalu mengandalkanmu

Sori nggak bisa, sibuk nih.

Sori nggak bisa, sibuk nih. via brownpaperbunny.tumblr.com

Bila setiap kali dibutuhkan kamu selalu menyanggupi, orang akan terbiasa untuk mengandalkanmu. Karena itu, sekali waktu, buatlah dirimu sibuk sehingga tidak available, meskipun sebenarnya kamu juga hanya leyeh-leyeh di kosan. Bukan masalah jujur atau tak jujur, tapi orang harus tahu bahwa waktumu bukan untuk mereka semua.

Sekali waktu mengatakan tidak bisa saat diajak nongkrong teman, akan membuat mereka menghargai waktumu. Lembur di kantor juga boleh sekali waktu, namun jangan selalu bisa. Sebab, selalu ada saat dibutuhkan bagaimanapun akan membuatmu terlihat punya banyak waktu luang dan bisa diandalkan.

2.Menghabiskan waktu dengan teman memang seru, tapi kamu juga harus punya waktu untuk dirimu sendiri

Me-time

Me-time via www.pinterest.com

Kamu yang sibuk membantu dan membahagiakan orang lain akan menjalani hidup yang sangat sibuk. Diajak ke sana oke, disuruh ke sana iya, apa-apa dikerjakan dengan senang hati. Membantu orang lain memang bukan hal yang salah. Namun kamu juga harus memiliki waktu untuk memikirkan dan untuk dirimu sendiri. ‘Me-time’ selain sebuah momen recharge energimu, juga merupakan simbol bahwa kamu menghargai dirimu sendiri. Kamu Memberikan satu waktu luang untuk melakukan apapun yang kamu suka, tanpa harus menuruti saran ini dan itu dari orang lain.

3. Siapkan alasan paling masuk akal, ketika kamu menolak permintaan seseorang. Dengan begitu, kamu juga akan meminimalisir rasa bersalahmu

Jangan selalu merasa bersalah

Jangan selalu merasa bersalah via hd.unsplash.com

Yang paling menyiksa bagi kamu si ‘”Telalu-baik” ini adalah rasa bersalah ketika kamu menolak atau tidak bisa membantu orang lain. Kamu merasa begitu tak berguna, dan mengabaikan peranmu sebagai pertugas penjamin kesejahteraan orang lain. Karena itulah kamu sering memaksakan diri untuk membantu, sebab kamu sering merasa tak enak hati menolak sesuatu. Untuk mengatasi hal ini, kamu harus menyiapkan sebuah alasan yang sangat logis, baik untuk orang yang minta bantuanmu, ataupun untuk dirimu sendiri. Dengan alasan yang kemasuk-akalannya tak perlu ditanya, dengan sendirinya kamu akan memaklumi diri sendiri.

4. Ketika soal pekerjaan yang diperbincangkan, maka berpegang teguh pada jobdesk adalah mutlak. Apa yang di luar jobdeskmu bukanlah urusanmu

Jangan sampai kewalahan karena terlalu baik

Jangan sampai kewalahan karena terlalu baik via hd.unsplash.com

Kamu yang terlalu baik hati, sudah berapa kali mengcover pekerjaan orang lain yang katanya demi kepentingan dan kemajuan bersama? Sekali atau dua kali, kamu memang harus melakukannya. Namun lebih dari itu, kamu hanya akan membuka peluang orang lain untuk memanfaatkanmu. Karena itu, soal pekerjaan kamu harus garang. Sebab, apa yang tertera dalam kontrak kerja dan list jobdesk sudah tertera dan disepakati bersama. Tak perlu memikirkan apa yang bukan jobdeskmu, karena hal itu, selain membawa dampak buruk bagimu, kamu juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengingkari tanggung jawabnya.

5. Mulai dari urutan antrian sampai ikut pemilu, biasakan untuk menggunakan hakmu sekecil apapun itu. Dengan begitu kamu akan lebih menghargai dirimu

Memberi itu mulia, tapi jangan sampai lupa bagianmu sendiri

Memberi itu mulia, tapi jangan sampai lupa bagianmu sendiri via hd.unsplash.com

Berhenti bersikap terlalu baik, secara langsung kamu juga turut menjaga segala sesuatu sesuai porsinya. Mengorbankan hak berpendapat demi kata sepakat yang menahan gejolak konflik jelas bukan hal yang bijak. Mulai dari hal-hal kecil seperti taat pada antrian, artinya kamu harus marah bila ada yang menyerobot antrian tanpa alasan yang jelas, mengemukakan pendapat dalam rapat, sampai hal-hal besar seperti mengikuti pemilu untuk memberikan suara, adalah wujud dari usaha mematenkan sebuah perarutan. Selain untuk menciptakan ketertiban dan partisipasi, menggunakan hak berpendapatmu adalah bentuk pernghargaan atas diri sendiri. Kamu meyakini bahwa kamu juga mampu, dan tidak lebih buruk dari orang lain. Kamu harus mulai membiasakan hal itu.

6. Ketika teman minta ditemani untuk sebuah acara, usahakan kamu terlihat punya kepentingan juga di sana dengan mengatakan Oke, tapi nanti habis dari sana kita ke bla bla bla ya

Hidup ini serangkaian give and take

Hidup ini serangkaian ‘give and take’ via hd.unsplash.com

“Temani ke kampus dong?”
“Temani belanja dong?”
“Eh udah nonton AADC belum? Gue belum nih! Temani yuk?”
“Aduh aku harus nyari buku nih. Kosong nggak? Mau nemenin nggak?”

Sebagai orang yang sangat baik hati, seringkali kamu tidak bisa menolak saat teman memintamu untuk menemanimu ke sana-sini. Walaupun sebenarnya kamu malas setengah mati. Hanya karena hati yang tak tega, kamu terpaksa mengiyakan saja. Lama-lama kamu dijadikan tumpuan setiap orang yang minta diantar ke mana-mana. Tapi hal ini bisa diatasi dengan cara kamu juga harus mengambil kepentingan di sana. Bilang saja : “Oke, tapi habis kita nonton bioskop, nanti temenin gue nyari sepatu ya? Ada acara resmi dari kantor nih, kudu pakai higheels.”. Dengan begitu, temanmu tidak akan merasa kalau kamu selalu iya-iya saja diminta apa-apa, melainkan kamu juga punya kebutuhan. Fifty-fifty.

7. Mulai belajar mengekspresikan emosimu. Jadi ketika kata Nggak tidak sanggup keluar dari bibirmu, ekspresimu cukup mengungkapkan hal itu

Belajar melafalkan 'tidak'

Belajar melafalkan ‘tidak’

Ada kalanya poker-face adalah pilihan yang bijak. Namun ada kalanya juga kamu membutuhkan ekspresi diri untuk mengungkapkan apa yang tidak bisa kamu katakan. Karena orang bisa bicara melalui berbagai cara, termasuk salah satunya ekspresi wajah, kamu harus memanfaatkannya. Jadi ketika mulut tidak kuasa mengatakan ‘tidak’, raut wajahmu sudah cukup mewakilinya. Bila temanmu peka, seharusnya cara ini bisa dilogika. Misalnya, ketika temanmu tiba-tiba ingin curhat sementara kamu sendiri sedang ada masalah pelik, cukup pasang wajah tidak antusias atau sedih, agar dia menyadari bahwa kamu sedang pusing sendiri tanpa ditambah mendengarkan curhatannya.

Ada perbedaan tegas antara bersikap baik dengan bersifat terlalu baik. Bersikap baik punya batasan. Kamu tahu kapan harus mengatakan ya dan kapan harus mengatakan tidak. Kamu juga tahu bagaimana caranya membantu orang lain tanpa memberi kesan bahwa kamu bersedia direpotkan kapan saja. Sementara kamu yang bersikap terlalu baik, hanya akan terus memaklumi hanya karena tak enak hati. Semuanya harus imbang dan sesuai porsinya. Jangan sampai terlalu sibuk berbuat baik kepada orang lain membuatmu lupa pada harga dirimu sendiri.