Berani Tanya Kapan Nikah, Harus Berani Diajak Nikah!

adminJanuary 20, 2016Views 472

tolongshare.com - KALAU kamu berani tanya, “Kapan nikah?” Harus berani kutanya, “Kapan dirimu siap?” Kalau dirimu tanya, “Kenapa malah tanya sama aku?” Maka akan kujawab, “Habisnya dari kemarin-kemarin dirimu yang paling rajin menanyakan hal itu, barangkali dirimu sudah siap kunikahi.”

Kalau dirimu menjawab, “Aku bertanya karena peduli” bukankah kepedulian itu dibuktikan dengan tindakan, bukan dengan ujaran. Kalau dirimu peduli dengan masa depan pernikahanku, maka wujudkan dengan kesediaanmu untuk kunikahi. Kalau belum siap, berarti dirimu tidak lebih cuma penanya yang sebenarnya tidak butuh jawaban.

Jawabanku jelas, “Siap bertanya kapan diriku menikah, maka siapkan mental untuk menikah denganku.” Jadi jangan main-main dengan pertanyaan soal pernikahan sebab itu meyangkut harga dirimu juga. Dari pertanyaanmu itu bisa kupahami bentuk merendahkan harga diriku yang belum menikah, giliran kutantang untuk menikah denganku dirimu malah tak bisa menjawab apa-apa. Kalau sudah begini, sebenarnya yang tidak siap menikah itu siapa?

Kail tidak mungkin dilempar tanpa ada umpan, dirimu bertanya tidak mungkin apabila tidak ada maksud. Semakin sering dirimu bertanya kapan aku akan menikah, semakin menunjukkan betapa besar seleramu untuk kunikahi. Meskipun begitu bernafsu untuk menikah denganku, tidak perlulah sampai begitu caranya. Cukup berdoa dalam diam, atau langsung pada inti permasalahan bahwa dirimu menawarkan diri untuk aku nikahi.

Lebih terhormat menawarkan diri untuk dinikahi, daripada mengulang-ulang pertanyaan yang sama padahal dirimu saja belum menikah. Ketahuilah, apabila diriku hanya karena tak tahan serangan pertanyaan ‘kapan nikah’ lalu buru-buru menikah itu karena pengaruh emosi bukan panggilan hati nurani. Jadi kalau harus menderita akibat emosi, mari kita menderita bersama saat kita sudah berumah tangga. Jangan sampai, akibat pertanyaanmu membuat gendang telingaku serasa pecah, kemudian aku nikah dan hidup susah. Sedangkan dirimu enak-enakan melajang, sambil bertanya, “Kapan punya anak?” Jadi, siap tidak menikah denganku, kalau tidak siap lebih baik diam sajalah.

Mendoakanku dalam diam untuk menemukan jodoh itu lebih baik daripada menambah beban pikiran. Ingat juga, jangan sampai karena sibuk bertanya “Kapan nikah?” Malah dirimu sendiri tidak juga segera menikah. Lebih menyedihkan lagi, dirimu sibuk bertanya “Kapan nikah?” Saat kuberi undangan pernikahan baru menangis tujuh hari tujuh malam sembari merengek-rengek di hadapan Allah dan berujar, “Mengapa orang yang kuharapkan jadi pendamping hidupku tidak mengerti bahasa isyaratku Ya Allah.”

Kalau itu terjadi, saat semua orang sibuk mengirim karangan bunga dengan ucapan “Selamat Menempuh Hidup Baru” di halaman rumahku, dirimu akan pergi ke tukang karangan bunga memesan satu papan bunga bertuliskan “Turut Berduka Cita Atas Kegagalan Cinta” lalu dipasang di kamarmu. Jadi, lain kali sebelum bertanya “kapan nikah?” pastikan dulu, apakah pertanyaanmu itu betul-betul niat bertanya atau justru ada upaya untuk memilikiku sebagai pasangan hidupmu. Kalau memiliki niat menjadikanku pasangan, katakan saja dengan jujur barangkali diriku bisa mempertimbangkan untuk menerimamu.

Arief Siddiq Razaan, 06 November 2015

Sumber : Islampos.com

Categories