Bukan Harta atau Tahta, Kamu Hanya Butuh Teman Untuk Berbagi dan Bercerita

Yang kau butuhkan sebenarnya bukan sebuah sapu tangan yang diulurkan oleh seseorang untuk menghapus air matamu. Tak peduli seberapa wangi aromanya, seberapa bersih serat-serat kainnya. Kau sebenarnya tak butuh itu.

Yang kau butuhkan sebenarnya bukan sebuah teriakan “semangatlah!”. Tidak peduli betapa terlihat kuat dan bergairahnya seseorang meneriakkannya. Kau sebenarnya tak butuh itu.

Yang kau butuhkan sebenarnya bukan candaan sebagai pengalihperhatian atas rasa sakit yang kau gantung di setiap vena dan arteri hatimu. Tidak peduli seberapa lucu dan tertawa orang-orang di sekitarmu karena candaan itu. Kau sebenarnya tak butuh itu.

Yang kau butuhkan sebenarnya bukan bercakap sepanjang hari tentang kehidupan orang lain yang tak kau kenal bersama orang-orang di sekitarmu. Tidak peduli seberapa mewah, hebat, dan mengagumkan kehidupan seseorang itu. Kau sebenarnya tak butuh itu.

Yang kau butuhkan sebenarnya bukan menyepi di tengah riuh orang. Bukan menarik diri dari orang-orang di sekitarmu, lalu terisak dengan menutup rapat-rapat bibirmu agar suara tangismu tak terdengar. Kau sebenarnya tak butuh itu.

 

Sebab sebenarnya yang kau butuhkan adalah menangis sejadi-jadinya, selepas-lepasnya di depan orang terdekatmu. Bercerita kepada orang yang kau percaya tentang segala rasa sakit yang kau tumpuk-tumpuk sendirian. Membasahi kain baju pada bagian pundaknya dengan air matamu. Ditepuk pelan sambil diberi kalimat penenang.

Ini baik-baik saja. Kau sudah banyak menderita selama ini. Tidak apa-apa jika kau menangis. Kau sudah melaluinya dengan baik.

 

Yang kau butuhkan sebenarnya hanya itu. Bercerita dan berbagi rasa sakitmu dengan orang yang tepat. Sekali lagi, dengan-orang-yang-tepat.