Inilah Cara Mengetahui Kualitas KeIslaman Kita

adminJanuary 12, 2016Views 496

tolongshare.com - Setiap dari kita seorang muslim tentunya menginginkan memiliki keimanan yang baik di mata Allah SWT. Namun, banyak diatara kita yang masih belum mengetahui indikasi baiknhya kualitas keIslamannya di mata Allah SWT. Padahal Rasulullah SAW pernah memberitahu melalui lisannya yang mulia tentang tanda baiknya keIslaman seseorang.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda, “Di antara tanda dari baiknya keislaman seseorang adalah dia meninggalkan sesuatu yg tidak berguna baginya.” (HR Tirmidzi)

Para ulama menegaskan, kedudukan hadits ini amat sangat penting, sebab ia mejelaskan berkaitan etika, membangun level kebaikan seorang muslim. Lantaran itu, Imam An-Nawawi pula memasukan hadits ini di antara hadits-hadits pilihan Arba’in An-Nawawi.

Ada beberapa kata yg perlu kita pahami pada hadits tersebut. Pertama, tujuan dari kebaikan keislaman atau kebaikan seorang muslim yakni nilai, pahala, indikasi kuat & lemahnya iman seseorang. Sementara “baik” pada hadits ini bermakna baik dalam pandangan Allah & Rasul-Nya, & baik selaras dgn prinsip kebaikan manusia. Ada pula yg menyebut “baik” bermakna seandainya serasi dgn ajaran Allah & Rasul-Nya, & prinsip kebaikan manusia. Sementara “tak bermanfaat”, akan diartikan sia-sia, tiada kebaikan, tak bermanfaat, tak berharga baik buat kehidupan dunia & tak bermanfaat utk akhirat, atau aktivitas yg bernilai menyia-nyikan waktu.

Makna tersirat di balik hadits ini, bahwa sejatinya sifat penting seorang muslim merupakan senantiasa sibuk dgn hal yg mulia & bermanfaat, menjauhi segala yang hina, sia-sia, tidak bermanfaat. Begitu pun, merawat diri dalam keislaman yg sejati di antaranya dgn meninggalkan segala yg tak berguna dunia & akhirat. Lantaran itu, sibuk atau melaksanakan sesuatu yg tak bermanfaat adalah di antara tanda lemah iman atau kriteria kurang baiknya keislaman seorang.

Selain itu, kita pun bisa memahami dari hadits tersebut, bahwa kebaikan Islam seseorang bertingkat-tingkat, ada level tinggi, menengah & rendah. Tak sama nilai keislaman Nabi, sahabat, tabi’in dgn generasi kemudian. Sama halnya, tak sama keislaman yg senantiasa aktif dgn aktivitas sia-sia, tidak bermanfaat utk dunia & akhirat, bersama keislaman mereka yg menyibukan diri dgn amal shaleh, yg berprinsip “al-wajibatu aktsam min al-awqat”, kewajiban sbg seorang muslim lebih banyak dari waktu yg tersedia.”

Tetapi pemahaman hadits ini janganlah dibawa pada kesimpulan Islam yaitu agama “yang menegangkan”, agamam yg kaku, anti hiburan, kalem & relaksasi. Pasalnya, sejatinya hiburan diperbolehkan dalam Islam. Mengingat, Islam hadir yang merupakan agama realistis, tak tenggelam dalam dunia khayal & lamunan. Tapi Islam berjalan dgn manusia di atas dunia realita & alam kebenaran. Dalam arti, Islam tak memperlakukan manusia, para pengikutnya sbg Malaikat. Namun Islam memperlakukan manusia sbg manusia yg suka makan, minum, bersantai, bergurau, berjalan-jalan, & hiburan.

Islam tak mengharuskan manusia agar dalam seluruh percakapannya itu berupa zikir, diamnya itu berarti berfikir, semua pendengarannya cuma pada Al-Quran & seluruhnya saat senggangnya mesti di tempat ibadah. Namun, Islam mengakui fitrah & insting manusia sbg makhluk yg dicipta Allah, yg dijadikan juga sebagai makhluk yg senang bergembira, bersenang-senang, ketawa & bermain-main, layaknya mereka dicipta senang makan & minum.

Benar, meningkatnya dunia & akhirat, kesungguhan yg membulat & ketekunan beribadah haruslah jadi kebiasaan. Tetapi, marilah kita dengarkan kisah seseorang kawan yg mulia, namanya Handzalah Al-Asidi, dirinya termasuk juga salah seseorang penulis wahyu utk Nabi saw. Beliau mengeluhkan keadaan keislamannya yg meningkat disaat bersama Nabi, berada di majelis pengajian, namun begitu pulang ke rumah, berkumpul dengan istri & anak-anaknya gelora semangat itu pun menurun. Mendengar keluhan sahabatnya ini, Rasulullah saw pula bersabda, “Demi Zat yg diriku berada dalam Kekuasaan-Nya, sesungguhnya kalau engkau disiplin kepada apa yg pernah engkau dengar diwaktu bersama aku & pula tekun dalam zikir, niscaya Malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu & di jalan-jalanmu. Tapi hai Handzalah, ‘saa’atan, saa’atan’ (perlahan-lahan, & berguraulah sewajarnya). Diulanginya kata kata itu hingga tiga kali.” (HR. Muslim)

H. Atik Fikri Ilyas, Lc, MA

Semoga kita semua termasuk diantara golongan orang-orang yang baik Iman Islamnya..Amin..

Categories