Mengapa Aku Merasa Tidak Bahagia

Doa.jpg

Matahari mulai terbenam, dan yang aku lakukan hanya memejamkan mata.

Aku merasa sangat berterima kasih pada Tuhan sepanjang hari ini. Dan hal itu yang seharusnya kulakukan sejak dulu, kan?

Otakku mengulang kembali segala memori dan kisah sedih yang pernah kualami. Bukan, bukan orang lain yang membuatku sedih. Tetapi diriku sendiri.

Aku selalu membuat diriku merasa bersalah. Aku selalu membuat diriku sendiri merasa belum cukup.

Aku hampir lupa bagaimana rasanya bahagia. Yang aku tahu hanyalah aku selalu berusaha membuat orang-orang disekitarku bahagia dan terhibur melalui guyonan yang aku keluarkan, namun, sebenarnya aku yang butuh dihibur.

Butuh beberapa waktu untuk mencari apa yang sebenarnya membuatku merasa tidak bahagia. Ketika aku berjalan diantara kerumunan manusia, mataku akan terus mencari sesuatu pada diri orang lain yang menurutku lebih. Aku tidak menyadari bahwa itulah yang membunuhku secara perlahan.

Pikiranku terpenuhi oleh prespektif yang kubuat sendiri setiap memikirkan apa yang dimiliki orang lain. Yang selalu keluar adalah sebuah pertanyaan, “Mengapa? Mengapa aku harus begini? Mengapa aku bukan dia?”

Aku belum tersadar kalau hal itu yang membuatku hampir kehilangan segalanya. Aku hampir kehilangan imanku. Aku hampir melupakan rasa bersyukurku.

Langkah kaki yang terdengar santai dan tidak terburu-buru itu mulai terasa dekat. Dia duduk disebelahku sambil mendekap kakinya. Sambil menoleh kearahku, ia tersenyum. Ia tahu apa yang aku pikirkan, karena dia sahabatku.

“Aku tahu,” ujarnya. “Berhentilah menyalahkan dirimu. Itu sudah masa lalu. Beginilah hidup, kau hanya harus mengikuti arus.”

Aku mengangguk pelan, lalu dia merangkul bahuku dengan erat. Persahabatan ini memang indah. Aku tidak keberatan jika aku harus kehilangan sepuluh teman, asalkan dia tetap bersamaku. Aku hanya butuh dia.

Ia yang paling mengerti diriku. Ia selalu berkata bahwa aku harus bangga dengan diriku sendiri, ia selalu berkata bahwa aku harus selalu melihat orang-orang yang kurang beruntung. Aku merasa di tolong olehnya. Kalau tidak ada dia, mungkin aku sudah hancur.

“Akan selalu ada orang yang berdiri di atasmu. Tapi ingatlah, kau juga bisa melakukan semua itu dengan caramu sendiri. Lihat sekelilingmu, pasti ada hal yang bisa kau syukuri.” Ia melanjutkan. Kini tangannya meraih pasir pantai, lalu mengenggam pasir itu.

Ia menyuruhku untuk memperhatikan apa yang ia lakukan dengan cara melepas rangkulannya. “Kau lihat ini. Lepaskan perlahan segala ketakutanmu.” Perlahan, ia membuka genggaman tangannya dan membuat butiran pasir itu kembali jatuh.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.